Jumat, 31 Oktober 2014

Membedah Detail Default Konfigurasi Router MikroTik

Pada saat kita setting pertama kali router MikroTik yang masih baru, terkadang kita kesulitan untuk remote di ether1, atau ketika kita sudah berhasil remote router, di dalam router sudah terdapat konfigurasi yang terlihat tidak begitu familiar. Hal tersebut bukan karena malfuction router MiktoTik, akan tetapi karena adanya default konfigurasi. Bagi beberapa orang, akan lebih mudah konfigurasi dari awal ketika router tidak ada konfigurasi sama sekali. Namun bagi orang yang masih belajar setting MiktoTik, default konfigurasi akan sangat membantu. Akan kita coba jabarkan lebih detail mengenai default konfigurasi.
router yang memiliki default konfigurasi biasanya akan menampilkan informasi bahwa terdapat default konfigurasi setelah login console atau muncul kotak dialog ketika diremote menggunakan winbox. Contoh kotak dialog pada saat diremote dengan winbox :
 
Kotak dialog ini menampilkan 3 opsi. "Remove Configuration" akan menghapus default konfigurasi sehingga router akan bersih, tanpa ada konfigurasi sama sekali. Opsi "Show Script" akan menampilkan script default konfigurasi. Dan opsi "OK" akan memasang default konfigurasi ke dalam router tersebut. 
Setiap jenis router memiliki dafault konfigurasi yang berbeda tergantung dengan kondisi hardware perangkat tersebut. Script default konfigurasi router bisa ditampilkan dengan perintah /system default-configuration print 
 
Sekarang kita coba jabarkan default konfigurasi secara umum. 
Ethernet 
Default konfigurasi akan memberi nama interface yang dimaksudkan agar pengguna lebih mudah dalam menentukan di interface mana kabel akan dipasang.
  • Ether 1 akan diberi nama ether1-gateway dengan asumsi user akan memasang kabel yang terhubung dengan internet ke ether1.
  • Ether 2 , akan diberi nama etherx-master-local. 
  • Ether 3 sampai ether terakhir akan diberi nama ether3-slave-local. Pada interface ini, setting master-port akan diarahkan ke ether2 sehingga berada dalam segmen jaringan yang sama dengan interface ether2. 
User bisa mengkoneksikan jaringan lokal ke ether2, ether3, dan seterusnya kecuali ether1. Segmen jaringan lokal juga harus berada dalam segmen yang sama.
IP Address
Default konfigurasi akan memasang IP address untuk interface yang terkoneksi ke jaringan lokal dengan IP Address 192.168.88.1/24. Sehingga nantinya jaringan lokal akan menggunakan segmen network 192.168.88.0/24.
Namun hai ini tidak berlaku untuk produk yang memiliki 1 interface ethernet, RB411 series, RB433 series, RB435 series, RB800 series, CCR series dan RB1000 series. IP address tetap terpasang di interface ether1. 
DHCP
DHCP Server akan diajalankan oleh default konfigurasi di interface yang terkoneksi ke jaringan lokal. Client cukup konek ke interface ethernet selain ether1, maka secara otomatis akan mendapatkan ip address.
Default konfigurasi juga menjalankan service DHCP Client di interface ether1 yang diasumsikan akan terkoneksi ke internet. ISP biasanya memberikan IP address secara dynamic sehingga client tidak perlu kesulitasn setting IP address, gateway, dns, dll. Jika ISP atau modem secara otomatis memberikan ip address, maka cukup koneksikan kabel dari internet/ISP ke ether1 router MikroTik, maka router sudah bisa mendapatkan IP address dan terkoneksi ke internet. 
Wireless
Untuk perangkat yang memiliki embedded interface wireless, juga terdapat default konfigurasi untuk beberapa setting tergantung kondisi hardware router tersebut. 
  • Mode, untuk perangkat yang memiliki lisensi leve 4 keatas, secara default akan menggunakan mode "AP Bridge", sedangkan untuk router yang memiliki lisensi level 3 menggunakan mode station.
  • Band, jika router hanya support di 2Ghz dan support MIMO, maka akan menggunakan band "2Ghz-b/g/n" dan router yang hanya support 5Ghz dan MIMO akan menggunakan band "5Ghz-a/n". 
  • Frekuensi, pada roiter yang support 2Ghz akan menggunakan frekuensi 2412. Dan router yang support 5Ghz akan menggunakan frekuensi 5300.
  • Chain, untuk router yang sudah mendukung dual chain, setting default akan menggunakan mengaktifkan chain 0,1. dan untuk router yang masih single chain, hanya akan menggunakan chain 0.
  • Security Profile, default konfig akan membuat security profile dengan serial number router sebagai WPA dan WPA2 Key. 
  • SSID, akan ditentukan berdasarkan mac-address interface wireless. biasanya akan diset SSID "MikroTik-[Enam Digit Terakhir MAC-Address]" 
Selain memberikan beberapa setting diatas, interface wireless juga akan di-bridge dengan interface ethernet lokal sehingga jaringan wireless berada dalam segmen yang sama dengan jaringan kabel. 
 
Untuk perangkat yang dengan tambahan interface wireless yang terpasang di port MiniPCI akan di-disable. 
Firewall 
Ada beberapa rule firewall yang akan dibuat oleh default konfigurasi untuk kemanan router dan untuk menghemat resource router dengan melakukan drop paket yang tidak dibutuhkan. Berikut rule firewall default konfigurasi :
 /ip firewall
filter add chain=input action=accept protocol=icmp comment="default configuration"
filter add chain=input action=accept connection-state=established in-interface=ether1-gateway comment="default configuration"
filter add chain=input action=accept connection-state=related in-interface=ether1-gateway comment="default configuration"
filter add chain=input action=drop in-interface=ether1-gateway comment="default configuration"
nat add chain=srcnat out-interface=ether1-gateway action=masquerade comment="default configuration" 
Rule pertama di firewall tersebut akan menijinkan koneksi ICMP yang menuju ke router. Rule kedua mengijinkan koneksi yang sudah memiliki status established menuju ke router. Rule ketiga mengijinkan koneksi yang sudah memiliki status related yang juga menuju router. Rule keempat akan melakukan drop setiap koneksi menuju router yang masuk melalui interface ether1-gateway. Dan rule terakhir merupakan rule NAT yang mengijinkan client dibawah router untuk meminjam ip router agar bisa terkoneksi ke jaringan internet. 
DNS
Static DNS dibuat oleh default konfigurasi dengan dns name "router" dan  IP address 192.168.88.1. Artinya router juga berjalan sebagai DNS Server. Jika kita buka browser kemudian kita ketik pada address bar dengan alamat http://router maka alamat yang dituju oleh browser adalah 192.168.88.1 dan akan muncul tampilan web-base router MikroTik.
Tips
Default Konfigurasi bisa di edit atau dihilangkan sesuai dengan kebutuhan. Jika ternyata default konfigurasi malah membuat kita kesulitan atau kebingungan dalam melakukan setting fitur yang kita butuhkan, Kita bisa hilangkan dengan beberapa cara.
Pertama, tentu harus remote router terlebih dahulu, ktika muncul kotak dialog yang menginformasikan tentang default konfigurasi seperti gambar pertama pada artikel ini, pilih opsi "Remove Configuration". Atau jika ternyata default konfigurasi sudah terpasang, bisa dihilangkan dengan reset atau netinstall.
Jadi, mulai sekarang tidak perlu bingung atau bahkan panik ketika Router tidak bisa diremote saat pertama kali.

Senin, 27 Oktober 2014

Best Effort Wireless Security

Jaringan wireless merupakan jaringan yang bersifat open network. berbeda dengan jaringan kabel dimana seseorang yang hendak terkoneksi harus mencolokkan kabel, pada jaringan wireless siapapun bisa mencoba akses kedalam jaringan tanpa terkendala secara fisik. Selama device user dapat menerima sinyal wireless dengan baik, user resmi maupun user yang tidak diinginkan tetap bisa mencoba masuk kedalam jaringan. Hal ini biasanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi admin jaringan wireless. Dalam security jaringan, peran admin jaringan sangat besar. Bisa dikatakan adminlah yang menentukan aman atau tidaknya sebuah jaringan. Admin jaringan yang mentukan alat yang akan digunakan untuk membangun jaringan wireless, dan juga menentukan security seperti apa yang akan diterapkan. Bagaimana jika admin jaringan memilih untuk menggunakan Wireless Router MikroTik?. Apakah MikroTik cukup tangguh dalam hal security wireless ?. 
 
WEP dan WPA/WPA2
Ada dua jenis security yang biasa diimplementasikan dalam jaringan wireless, WEP & WPA. Kedua security ini merupakan wireless security yang berbeda generasi sehingga ada banyak perbedaan dan tingkat kemanan. 
WEP (Wired Equivalent Privacy)
Versi awal security wireless adalah WEP yang diperkenalkan pada September 1999. Bekerja dengan menggunakan stream cipher untuk menjaga kerahasiaan data dan menggunakan CRC-32 checksum untuk memastikan keutuhan data pada saat terjadi trasmisi data. 
WEP juga menggunakan sebuah key. WEP Keys terdiri dari 40 hingga 128bits yang biasanya didefinisikan secara statik di perangkat AP dan Client sehingga bisa saling berkomunikasi. 
Saat ini WEP sudah tidak banyak digunakan disebabkan karena WEP rentan terhadap serangan dan sudah dapat dilakukan cracking. Secara lengkap sudah dibahas di wikipedia 
WPA (Wi-Fi Protected Access)
WPA merupakan generasi lanjutan dari WEP. Dikembangkan karena kerentanan WEP Security terhadap serangan. Untuk algoritma enkripsi WPA menggunakan Temporal Key Integrity Protocol (TKIP) atau bisa juga menggunakan Advanced Encryption Standard (AES) dengan kemampuan encrypt lebih tinggi. 
Pengembangan dari WPA adalah WPA2 yang dalam proses enkripisi nya bisa menggunakan kombinasi TKIP dan AES. 
Dalam hal authentikasi, WPA/WPA2 dapat menerapkan : 
  • Pre-Shared-Key ; WPA-PSK / WPA2-PSK  (WPA Personal)
  • EAP ; WPA-EAP / WPA2-EAP
  • RADIUS Server ; Dengan mode WPA-EAP dapat diterapkan authentikasi terpusat pada RADIUS server (WPA Enterprise) 

Mikrotik Wireless Security 
Penerapan Wireless Security di MikroTik dapat dilakukan dengan setting pada menu Wireless Security Profiles. 
Open Network 
Set mode=none  : Sama sekali tidak menggunakan enkripsi dan jika ada frame yang telah dienkripsi maka tidak diterima. 

 
WEP 
- Set Mode : 
  • Static-keys-required : Digunakan pada mode WEP. Router tidak akan menerima dan mengirim frame yang tidak dienkripsi. Jika mode ini diterapkan pada sisi station, maka hanya bisa terkoneksi ke AP dengan mode yang sama.
  • Static-keys-optional : Berjalan di WEP mode. Support encryption dan decryption, akan tetapi mengijinkan perangkat wireless untuk menerima dan mengirim frames yang tidak dienkripsi.Perangkat  akan mengirimkan frames yang tidak dienkripsi jika algoritma enkripsi diset none.  Wireless station yang menggunakan mode static-keys-optional tidak akan terkoneksi ke access point yang menggunakan mode static-keys-required.
- Set WEP Static Keys 
Dalam penggunaan WEP kita harus melakukan set WEP-Key. Setting WEP Keys dapat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan convert sebuah phrase ke dalam bentuk bilangan hexadecimal pada layanan WEP Key Generator yang banyak terdapat di internet. 

 

WPA/WPA2 with Pre-Shared-Key
Metode inilah yang saat ini banyak digunakan. Dukungan keamanan dari enkripsi WPA/WPA2 dan cara setting yang mudah menjadi faktor utama. 
Untuk pengaturan nya, pilih mode=dynamic keys , authentication-types=WPA-PSK,WPA2-PSK. Lalu tentukan juga phrase yang akan digunakan sebagai password untuk bisa terkoneksi ke perangkat.
Tentukan juga chipers/ metode enkripsi yang akan digunakan. Jika diaktifkan pada sebuah AP, maka perangkat akan memberitahukan ke Client enkripsi mana yang disupport. Sehingga untuk bisa terkoneksi, Client harus support salah satu authentication-type dan chipers yang diterapkan pada AP. 

Setting di atas merupakan contoh penerapan WPA/WPA2 dengan Pre-Shared-Key dimana jika terdapat perangkat lain yang akan terkoneksi, maka harus support salah satu WPA atau WPA2 dengan metode enkripsi AES berbasis CCM.

WPA/WPA2 with Extensible Authentication Protocol (EAP) Metode autentikasi EAP yang disupport oleh MikroTik adalah EAP-TLS, dimana proses autentikasi dilakukan dengan menggunakan CA Certificate
Hampir sama dengan setting WPA-PSK, tentukan mode=dynamic keys danauthentication-types=WPA-EAP,WPA2-EAP


Pada saat pengaktifkan mode WPA-EAP kita bisa tentukan bagaimana EAP-TLS ini bekerja.



EAP-Methods
  • eap-tls : Menggunakan autentikasi EAP-TLS built-in pada perangkat. Sisi AP dan Client harus menggunakan certificate yang sesuai.
  • passthrough - Akses point akan me-relay proses autentikasi ke Radius Server. Tidak ada efeknya jika diterapkan pada sisi perangkat Client.
TLS Mode
  • verify-certificate - perangkat akan melakukan verifikasi certificate. Perangkat yang ingin terkoneksi harus memiliki certificate yang valid. 
  • dont-verify-certificate - Tidak melakukan verifikasi certificate remote device 
  • no-certificates - Tidak memerlukan certificate untuk bisa terkoneksi 
RADIUS MAC Authentication 
Selain metode-metode di atas, kita juga bisa menerapkan autentikasi berdasarkan MAC Address dari Client yang akan tekoneksi. Sudah kami bahas contoh nya dalam artikel User Manager Sebagai Radius Server Wireless

Kesimpulan

Untuk penggunaan wireless security saat ini yang  reliable adalah WPA/WPA2 dimana enkripsi yang digunakan sudah mendukung keutuhan dan kerahasiaan data lebih tinggi.

Tentu kita ingin menerapkan sebuah metode keamanan yang tinggi untuk menjaga jalur koneksi wireless agar tetap aman. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua perangkat wireless support untuk penerapan metode wireless-security.

Dalam membangun wireless network, sebagai admin jaringan kita harus mengetahui detail spesifikasi perangkat wireless yang akan kita gunakan, termasuk dukungan metode wireless security yang bisa diterapkan.

Dua buah perangkat wireless dengan dukungan dan penerapan metode wireless security yang berbeda tidak akan bisa terkoneksi. 

Jumat, 24 Oktober 2014

Manajemen Hotspot User

Hotspot system, terkenal dengan fitur "plug n play" akses nya, sederhana dan mudah dalam melakukan konfigurasi, apalagi di Mikrotik sudah disediakan wizard-nya. Terdiri dari berbagai service yang diaktifkan sehingga tanpa setting tambahan pun Hotspot sudah dapat berjalan. Akan tetapi tentu admin jaringan harus tetap menjaga agar jaringan tetap aman namun tidak mengesampingkan kenyaman user dalam mengakses jaringan.
Fitur apa saja yang bisa diterapkan pada Hotspot Mikrotik, sebelumnya sudah dibahas pada artikel Fitur-Fitur Hotspot Mikrotik . Kali ini, akan diberikan contoh dalam melakukan manajemen user hotspot, misalnya memberikan kebijakan yang berbeda untuk setiap user.
Contoh kasus, Pada sebuah jaringan kampus, akan dibangun sebuah jaringan Hotspot. Rencananya akan dibuat 3 hotspot username, dimana masing-masing akan diberikan kebijakan yang berbeda.
  • username=Dosen  -> Limitasi bandwidth share dengan Mahasiswa limit-at 512kbps dan max-limit 1Mbps 
  • username=Mahasiswa -> Limitasi bandwidth share dengan Dosen dengan maksimal 512kbps . Tidak diijinkan melakukan akses ke Router 
User Profile
Untuk memberikan kebiijakan pada username yang telah kita buat, bisa kita tentukan dengan User Profile. Dengan kebutuhan kebijakan yang berbeda, maka pada contoh kasus ini kita akan membuat satu user profile untuk masing-masing username. 
Terdapat parameter-parameter yang bisa digunakan untuk menentukan kebijakan untuk Hotspot Client pada User Profile. Untuk beberapa kondisi , kebijakan tidak bisa langsung diatur pada User Profile, tetapi harus dikombinasikan dengan Fitur yang lain. 
Limitasi Bandwidth
Limitasi Bandwidth per user bisa dilakukan langsung pada User Profile dengan mendefinisikan parameter Rate-Limit. Limitasi ini akan diberikan untuk masing-masing User. Misalnya, jika kita tentukan rate-limit=512k/512k berarti untuk masing-masing Hotspot Client yang menggunakan User Profile tersebut akan di-limit sebesar 512kbps.
 
Akan tetapi pada contoh kasus ini, akan diterapkan limitasi bandwidth share. Bandwidth 512k merupakan limitasi total untuk semua Hotspot Client yang Login menggunakan username yang sama. Untuk itu kita tidak bisa menentukan langsung pada user Profile tetapi harus dikombinasikan dengan fitur Mangle, dan kemudian dibuatkan queue berdasar penandaan packet dari mangle tersebut. 
Pada User Profile terdapat parameter yang bisa digunakan untuk menentukan Packet-Mark Mangle yang secara otomatis akan digenerate pada saat Hotspot Client Login.
Filtering/Blocking
Sesuai rencana awal, username=Mahasiswa hanya diperbolehkan untuk aktifitas ke internet saja, Sedangkan untuk akses ke router akan diblock. Kebijakan ini tidak bisa langsung diatur pada User Profile, tetapi harus dikombinasikan dengan Firewall Filter. 
Dalam pembuatan Firewall Filter sebenarnya kita bisa langsung menggunakan src-addrress=IP Hotspot Client secara manual, tetapi konfigurasi ini terdapat kemungkinan tidak sesuai harapan ketika IP yang sudah didefinisikan, terpasang / diberikan ke Client yang lain oleh Hotspot System.
Maka untuk kasus ini, digunakan parameter Incoming-Filter pada User-Profile barulah kemudian dikombinasikan dengan Firewall Filter. 
Pengaturan User-Profile=Dosen
Penentuan Nama Profile 
Shared-Users digunakan untuk menentukan berapa banyak user yang bisa Login dengan username yang sama dalam waktu bersamaan. 
  • Address-List : Pada saat Hotspot Client sudah Login , IP akan di masukkan pada address-list dengan nama yang sudah ditentukan 
  • Incoming-Filter : Nama Chain Firewall Filter baru untuk traffic yang masuk dari Client. Dibuat secara otomatis ketika Hotspot Client Login. Dibutuhkan action Jump dari built-in chain ke chain=hotspot 
  • Incoming-Packet-Mark : Nama/penandaan packet yang masuk dari Client. Berfungsi sama dengan Mangle Mark-Packet dengan src-address IP Hotspot Client.
  • Outgoing-Packet-Mark : Nama/penandaan packet yang keluar ke Client. Berfungsi sama dengan Mangle Mark-Packet dengan dst-address IP Hotspot Client.

Pengaturan Hotspot User-Profile=Mahasiswa
Penentuan Nama Profile dan Shared-User 


Penentuan User-Profile Mahasiswa menggunakan parameter yang sama dengan Dosen.

Bandwidth Manajemen 
Pada contoh kasus ini, akan digunakan Queue Tree dengan penandaan Packet-Mark yang dibuat otomatis oleh Hotspot-User Profile.

Penandaan Paket yang dilakukan oleh User-Profile tidak berada pada built-in chain yang ada pada Mangle, melainkan pada chain=hotspot yang dibuat otomatis. Oleh karena itu agar metode ini bekerja perlu dibuat Mangle dengan action=jump dari Built-In ke chain=hotspot. 





Setelah ada Hotspot Client yang Login maka otomatis akan terdapat rule mangle mark-packet baru yang ditambahkan otomatis oleh User-Profile yang sudah kita buat sebelumnya 



Dari Mangle tersebut kita bisa membuat limitasi menggunakan Queue-Tree. Konsep yang akan diterapkan adalah Bandwidth Share. Baik antar Client dengan username yang sama atau kelompok Client dengan username yang berbeda. Konsep ini akan kita set dengan model Staged Limitation. 

Tentukan Parent Total Bandwidth 
Langkah pertama, lakukan konfigurasi untuk menentukan total bandwidth yang ada pada jaringan kita. Contoh disini menggunakan Bandwidth maksimal 1Mbps.



Selanjutnya tentukan limitasi untuk Dosen dan Mahasiswa sebagai child dari Parent Total Bandwidth yang dibuat sebelumnya.

Dosen memiliki garansi bandwidth 512k dengan up-to:1Mbps, maka bisa dilakukan konfigurasi seperti berikut 



Pada contoh tersebut menggunakan PCQ untuk queue type nya, digunakan untuk membagi bandwidth per user yang menggunakan username=Dosen

Pengaturan yang sama juga harus dilakukan untuk username=Mahasiswa, hanya berbeda limit-at dan max-limit nya. Mahasiswa dibuat maksimal 512k untuk semua client dengan username=Mahasiswa 



Hasil akhirnya seperti berikut



Filtering 

Dari konsep awal, Mahasiswa tidak diijinkan untuk akses ke Router, baik ping,winbox,ssh,dsb. Sebelumnya sudah kita tentukan pada User-Profile Mahasiswa, bahwa ketika Client Login, maka akan dibuat chain baru dengan nama Mahasiswa-in.

Chain ini bukan pada chain utama, sehingga perlu dibuat jump ke chain hotspot dari Built-In chain. Baru setelah itu kita gunakan Chain=Mahasiswa-in untuk melakukan blocking traffic dari Client ke arah Router 



Dengan kombinasi konfigurasi seperti contoh tersebut kita akan lebih mudah dan fleksible dalam melakukan manajemen jaringan Hotspot.

Senin, 20 Oktober 2014

Point To Point Addressing

Pengalamatan IP Address pada jaringan merupakan hal yang sangat penting. Cara yang lazim digunakan adalah dengan melakukan pengelompokan atau pembagian dengan cara subneting. Sebelumnya sudah pernah dibahas dalam artikel TCP/IP : IP Address 
Pada umumnya, untuk menghubungkan 2 buah perangkat kita akan menggunakan IP dengan minimal subnet /30 , dimana akan terdapat 2 usable/host IP. 
  
Pada Mikrotik, kebutuhan tersebut bisa dipehuhi dengan hanya menggunakan IP subnet /32 atau single IP. Contoh yang paling jelas terlihat adalah pada penerapan VPN PPTP Tunnel. Parameter Local dan Remote Address pada pengaturan Secret PPTP Server menggunakan IP dengan /32. Silakan baca kembali artikel Simple PPTP.
 
Setelah PPTP Tunnel terbentuk, akan muncul IP Address baru pada kedua sisi Router dengan subnet /32. Jika dibandingkan antara site A (server) dan site B (client), terdapat perbedaan posisi IP Address.
  
Selain pada service VPN, point to point addressing bisa diterapkan secara manual pada pemasangan 2 buah perangkat yang terhubung langsung. Konsep sama, yakni menggunakan IP Address perangkat lawan sebagai network.
Metode ini banyak digunakan oleh provider (ISP) dengan tujuan efisiensi penggunaan IP Public. 
Sebagai contoh, alokasi IP Address untuk Client dari sebuah ISP adalah 222.152.211.0/30 . Jika menggunakan konsep pada umumnya, ISP akan memasangkan 1 Host IP dari range subnet /30 tersebut sebagai gateway, sehingga client hanya akan mendapatkan 1 Host IP yang bisa dipasang pada perangkat nya. 
Akan tetapi dengan konsep point to point addressing, IP 222.152.211.0/30 akan sepenuhnya diberikan ke client, sehingga client mempunyai 2 Host IP. 
Topologi
 
Point to Point Addressing 


Router 1 
Set static Route ke arah IP Public Router 2 dengan gateway P2P Address

Router 2 IP Address 



Pada konsep ini, IP Public dipasang pada interface dummy bridge. Artinya bridge dibuat tanpa memiliki bridge port

Lakukan konfigurasi standar Mikrotik sebagai gateway, dengan beberapa penyesuaian pada pengaturan NAT dan Default-Gateway

Router 2 NAT Configuration 



Pengaturan NAT tersebut dibuat agar client/PC LAN bisa melakukan akses ke internet. Sesuai konsep sebelumnya, yang diberikan akses ke internet adalah Public IP, bukan IP P2P, sehingga harus ditentukan ketika paket Client keluar dari Router menggunakan IP 222.152.211.1
Router 2 Default Gateway Configuration 

 
Pref-Source perlu didefinisikan agar ketika paket keluar dari Router menggunakan IP 222.152.211.1. 

Selasa, 07 Oktober 2014

Bandwidth Management untuk Dynamic User

Simple queue bisa dikatakan sebuah solusi paling mudah dalam melakukan bandwidth management, sebagai admin jaringan kita hanya perlu isikan target address dengan ip komputer client kemudian kita tentukan bandwith yang dialokasikan untuk user tersebut. Permasalahan muncul jika ternyata user yang kita handle merupakan user dengan jumlah yang cukup banyak. Belum lagi jika user tersebut sifatnya dynamic. Mereka bisa konek ataupun disconnect  sesuai kemauan mereka. Akan sangat repot jika kita harus membuat simple queue satu per satu. Salah satu fitur mikrotik yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalah ini adalah dengan PCQ, 
PCQ merupakan salah satu cara melakukan manajemen bandwidth yang cukup mudah dimana PCQ bekerja dengan sebuah algoritma yang akan membagi bandwidth secara merata ke sejumlah client yang aktif. PCQ ideal diterapkan apabila dalam pengaturan bandwidth kita kesulitan dalam penentuan bandwidth per client. 
Misalnya, sebelumnya kita bisa melakukan bandwidth management dengan system HTB dimana jumlah client sedikit, maka masih mudah bagi admin jaringan dalam menentukan parameter limit-at. Tetapi bagaimana jika bandiwdth 1 Mbps namun ingin dibagi rata ke 200-an client. Jika menggunakan model HTB, akan sulit untuk menentukan limit-at . Dengan kondisi seperti ini, akan lebih mudah jika kita serahkan perhitungan management bandwidth ke router, agar Router yang akan membagi bandwidth secara otomatis ke client.
Cara kerja PCQ adalah dengan menambahkan sub-queue, berdasar classifier tertentu. Berikut gambaran cara kerja PCQ dengan parameter PCQ-Rate = 0.
  
PCQ rate adalah dasar perhitungan Router. Seberapa besar rate-limit yg akan diberikan ke user yg aktif.  Cara setting PCQ sebanarnya cukup mudah. Kita hanya perlu menambahkan Queue Type PCQ, kemudian tentukan nilai classifier dan nilai rate. Untuk management traffic download, centang opsi classifier dst.address. Dan untuk management traffic upload, centang opsi src.address. 
 
Selanjutnya, implementasikan PCQ yang dibuat sebelumnya. Misal dikombinasikan dengan Simple Queue. 
 
Sayangnya, karena semua urusan pembagian bandwidth sama rata dilakukan Router secara otomatis, kita tidak bisa menerapkan Priority ke user tertentu pada saat menggunakan PCQ.

Monitoring PCQ dapat dilihat pada bagian statistic. 
 

Senin, 06 Oktober 2014

Solusi Dynamic IP Public dengan IP Cloud

Dengan habisnya IPv4 membuat IP Public semakin mahal. Untuk berlangganan IP Public static tentu akan memaksa kita untuk merogoh kocek lebih dalam. Sedangkan IP Public dynamic biasanya lebih murah. Dengan harga murah IP Public dynamic, terkadang menimbulkan kesulitan tersendiri bagi admin jaringan yang hendak membuat router menyediakan service yang bisa diakses dari jaringan internet menggunakan IP Public. Misalnya VPN, atau hanya sekedar meremote router dari internet. 
Akan tetapi, IP Public Dynamic sudah tidak lagi menjadi masalah di MikroTikRouterOS mulai versi 6.14. Di versi ini terdapat fitur baru yang bernama IP Cloud. Fitur ini menyediakan layanan yang bisa dikatakan hampir sama seperti service DDNS (Dynamic DNS) yang banyak tersedia di Internet. Dengan fitur ini, service router yang sebelumnya diakses dengan IP Public, diganti dengan DNS yang disediakan oleh MikroTik.com. Dan ketika IP Public berubah, router akan melakukan update ke MikroTik.com sehingga service router tetap bisa diakses dengan DNS yang telah diberikan sebelumnya.
Jika sebelumnya kita bisa menggunakan layanan DDNS dari pihak ketiga, kita membutuhkan script yang cukup rumit agar router melakukan update ke penyedia DDNS. Dengan fitur IP Cloud, cukup masuk ke menu IP --> Cloud, kemudian centang "Enabled" dan selesai. 
Sebelum menjalankan fitur Ip Cloud ini, pastikan router sudah terkoneksi ke internet, agar router dapat melakukan request DNS ke IP Cloud Server. Jika statusnya sudah "updated", maka kita bisa menggunakan nama Domain untuk remote Router atau mengakses service yang dijalankan oleh router seperti VPN dari jaringan internet. Setiap menit router akan selalu mengecheck outgoing IP Router dan akan melakukan update IP ke IP Cloud Server. Dengan begitu, walau IP public router berubah-ubah, kita tetap bisa remote atau VPN ke router menggunakan nama domain yang sama. Contoh remote router via winbox dengan menggunakan domain
 
Agar fitur IP Cloud ini dapat berjalan dengan baik, pastikan router terkoneksi secara langsung dengan internet, sehingga ip public terpasang di router. Jika router hanya  memiliki IP private maka akan muncul informasi "DDNS server received request from IP 202.65.xxx.x but your local IP was 192.168.128.102; DDNS service might not work." Untuk saat ini fitur IP Cloud hanya support untuk IPv4 dan belum support IPv6. 
Selain remote router, bisa juga untuk melakukan dial VPN, karena ternyata dial VPN, misalnya PPTP, ternyata juga bisa menggunakan domain. Contoh implementasi : 
Selain dapat update Dynamic DNS, fitur IP Cloud juga bisa dimanfaatkan untuk update pengaturan waktu pada router jika NTP Client tidak aktif. Caranya, selain centang "Enabled" pada menu IP Cloud, centang juga "Update Time". Dan perlu diketahui, fitur IP Cloud tersedia mulai RouterOS versi 6.14, dan tidak ada di routerOS sebelum 6.14. Format nama domain yang diberikan berdasarkan serial number RouterBoard yang kita gunakan, jadi format domain ditulis seperti berikut : 
[SN RouterBoard].sn.mynetname.net
SN disini maksudnya serial number, jadi DNS di-generate berdasarkan serial number yang terdapat pada router. Perlu diketahui bahwa fitur IP Cloud ini hanya support untuk produk RouterBoard, dan belum support untuk produk x86. Perlu diketahui, router MikroTIk akan menggunakan protokol UPD dengan port 39752 untuk melakukan request atau update IP Address ke server IP Cloud. Pastikan jika Anda membuat rule firewall filter, tidak melakukan block terhadap protokol dan port tersebut. 

Minggu, 28 September 2014

Informasi mengenai jaringan komputer dan hardware yang digunakan


INFORMASI MENGENAI JARINGAN KOMPUTER DAN HARDWARE YANG DIGUNAKAN


Pada artikel kali ini,saya akan berbagi informasi mengenai jaringan komputer,hardware apa saja yang digunakan dalam jaringan komputer,dan topologi apa saja yang sering di gunakan dan jaringan komputer.berikut pembahasannya    :






PENGERTIAN JARINGAN KOMPUTER
Jaringan komputer Adalah sekelompok komputer otonom yang saling berhubungan antara yang satu dengan lainnya,
nMenggunakan suatu protokol komunikasi melalui media komunikasi sehingga dapat saling berbagi dan bertukar informasi.

TUJUAN PEMBANGUNAN JARINGAN KOMPUTER
Mengantarkan informasi secara tepat dan akurat dari sisi pengirim ke sisi penerima dan merupakan sarana komunikasi bedasarkan aspek teknologi masa kini

MANFAAT JARINGAN KOMPUTER
Manfaat dari jaringan komputer adalah sebagai berikut  :
Berbagi sumber daya (sharing resources)
Media komunikasi
Integrasi data
Pengembangan dan pemeliharaan
Keamanan data
Sumber daya lebih efisien dan informasi terkini.

KATEGORI JARINGAN
1.LAN( Local Area Network)
2.MAN(Metropolite Area Network)
3.WAN(Wide Are Network)
sekarang mari kita bahas satu persatu kategori jaringan.
1.LAN (Local Area Network)
Jaringan komputer yang berhubungan dalam satu lokasi (misalkan dalam suatu gedung)
ciri ciri LAN :
A.Beroperasi pada area yang terbatas
B.Koneksi peralatan berdekatan
C.Menyediakan fulltime konektifitas
D.Kendali jaringan dibawah administratsi lokal
2.MAN (Metropolite Area Network)
Meliputi area yang lebih besar dari LAN, misalnya antar wilayah dalam satu propinsi & Menghubungkan beberapa buah jaringan-jaringan kecil ke dalam lingkungan area yang lebih besar
Sebagai contoh yaitu : jaringan Bank dimana beberapa kantor cabang sebuah bank di dalam sebuah kota besar dihubungkan antara satu dengan lainnya
3.WAN (Wide Area Network)
WAN digunakan untuk menghubungkan beberapa LAN yang terpisah oleh jarak yang jauh
WAN dirancang untuk:
¨Beroperasi di wilayah yang sangat luas.
¨Memungkinkan akses melalui interface yang berurut pada kecepatan rendah
¨Menyediakan koneksi full-time dan part-time
¨Menghubungkan alat-alat yang terpisah jauh bahkan oleh area yang sangat luas
sekarang,kita akan membahas Hadware yg digunakan pada jaringan komputer .
Bedasarkan fungsinya,Hardware pada jaringan komputer dibagi menjadi sebagai berikut:
1.Unit Masukan
2.Unit Proses
3.Unit Keluaran
4.Unit Penyimpanan.
mari kita bahas satu persatu
1.Unit Pemasukan.
Unit masukan adalah alat untuk memasukkan data ataupun program untuk diolah oleh komputer sehingga menjadi sebuah informasi. Berikut adalah beberapa contoh unit masukan.Contohnya adalah keyboard,scanner,mouse,CD Rom dan DVD Rom serta voice input
2.Unit Proses
Unit Proses  yang berada di dalam komputer adalah Central Proccessing Unit (CPU). CPU merupakan otak dari segala kegiatan yang berlangsung di dalam tubuh komputer. Tiga unsur yang penting dalam CPU :
A.Primary Storage adalah ukuran besarnya proccessor atau sering disebut dengan main memory
B.Arithmatic logic unit adalah suatu alat yang bertugas melakukan perhitungan dalam komputer.
C.Control unit merupakan suatu alt pengontrol yang berada dalam komputer yang memberitahukan unit masukan mengenai jenis data, waktu pemasukan, dan tempat penyimpanan di dalam primary storage.
3.Unit Keluar
Unit keluaran adalah alat untuk menampilkan hasil pengolahan yang dilakukan oleh CPU. Contohnya adalah Monitor,speaker dan Printer.
4.Unit penyimpanan atau storage adalah suatu media yang dapat menyimpan data secara permanen dalam jangka waktu yang lama sehingga suatu saat data tersebut dapat diambil atau dibaca kembali. Contoh unit penyimpanan adalah sebagai berikut:
A.Flash Disk
B.Hard Disk
C.Compact Disk